Rasakan Spirit Walisongo, Sholat Di Masjid Batu Akik Ngawi

mimbar masjid 1545149002 7130ec95 progressive 614x1024 - Rasakan Spirit Walisongo, Sholat Di Masjid Batu Akik Ngawi

Bergerak ke arah timur meninggalkan Surakarta, Regu Jelajah Lebaran Jawa-Bali 2019 melintasi Kabupaten Ngawi, salah satu kawasan yang dibelah ruas jalan tol Solo-Kertosono.

Dikala mendekati waktu salat, kami memastikan untuk singgah sebentar di Ngawi untuk mencari daerah beribadah. Opsi jatuh ke Mesjid Al-Hajar Miftahul Huda atau kesohor dengan sebutan mesjid batu akik. Sebutan hal yang demikian merujuk pada batu akik besar yang diletakkan dekat mimbar dan diandalkan sebagai peninggalan Walisongo.

Dari gerbang tol Ngawi, Anda dapat bergerak ke arah selatan sejauh 20 km ke Desa Gerih, Kecamatan Gerih. Mesjid ini berlokasi di rumit Pondok Pesantren Miftahul Ulum.

mimbar masjid ukiran jepara - Rasakan Spirit Walisongo, Sholat Di Masjid Batu Akik Ngawi

Masjid adalah tempat dimana orang orang islam menjalankan ibadahnya dan di dalam masjid tentu kita sering menjumpai dengan yang namanya mimbar masjid, ya furniture yang satu ini memang tidak akan pernah lepas dari keberadaa masjid. dimanapun masjidnya, disitulah terdapat mimbar masjid.

Sekilas masjid ini terlihat seperti bangunan yang belum jadi sebab tiang-tiangnya terdiri atas batuan panjang utuh berwarna merah serupa bata. Ada pula tiang yang tertata atas batu-batu berukuran sedang. Melainkan demikianlah letak keunikan dan ciri khas masjid ini. Di dekat mimbar, terdapat batu raksasa seberat 10,3 ton berwarna merah hati ayam.

Jual Mimbar Masjid Minimalis - Rasakan Spirit Walisongo, Sholat Di Masjid Batu Akik Ngawi

“Batunya dari Pacitan, tipe merah hati ayam,” kata Syaiful Aziz, salah seorang santri Ponpes Miftahul Ulum, ketika berbincang dengan Bisnis, Sabtu (1/6/2019).

Ia mengatakan, masjid unik ini dibangun oleh Ali Manshur, sang pendiri pondok pesantren. Batu-batu yang menjadi penopang masjid, termasuk batu akik raksasa, diandalkan berasal dari sebuah mesjid peninggalan Walisongo yang gagal dibangun di Pantai Selatan. Batu-batu ketinggalan di lokasi diangkut ke Ngawi untuk membangun Masjid Batu Akik.

Tiang penopang masjid berjumlah 43 dengan tinggi masing-masing menempuh 7 meter dan diameter sekitar 1 meter. Masing-masing tiang penopang mempunyai berat dari 4 ton, 5 ton, 10 ton dan 18 ton.

Wujud batu tiang penopang masjid yang bukan adalah pahatan tangan manusia, tapi bentukan natural, menambah kesan natural. Ada salah satu batu tiang penopang masjid yang kondisinya berlubang yang diandalkan bekas jari Sunan Kalijaga.

Tak ada larangan untuk meraba bebatuan yang ada di masjid ini. Sehingga, kecuali singgah untuk sebentar mendirikan salat, Anda bisa sekalian menikmati spirit Walisongo lewat bebatuan yang menyatu dengan bangunan mesjid.

Hari bergerak kian petang, saatnya regu kembali melanjutkan perjalanan. Jikalau melintas Ngawi, jangan lupa mampir ya!